jpnn.com, DAVANGERE - Pasokan air bersih masih menjadi kendala bagi sebagian penyintas bencana di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Salah satu penyintas bencana Abdul Ghani mengatakan bahwa sehari-hari hanya berharap pasokan air bersih dari Palang Merah Indonesia (PMI) karena sumurnya tertimbun lumpur bawaan banjir.
“Ada orang lain kadang dia kasih air bersih, sikit dia kasih. Namun, alhamdulillah beberapa kali saya jumpa PMI, selalu dia kasih dua tong tiga tong dia kasih,” kata Abdul Ghani kepada ANTARA, Senin.
Sehari-hari pasokan kebutuhan air bersih tersebut akan digunakan oleh pria berusia 69 tahun tersebut untuk mencuci beras, air minum, dan berwudhu.
Senada dengan Abdul Ghani, Muammar Reza Pahlevi kini hanya bergantung air bersih dari pasokan PMI sebab sumurnya masih terdapat endapan lumpur.
“Ini kan secara berangsur, mulai sama-sama semua pihak pemerintah sama-sama saling berkolaborasi seperti apa-apa. Mungkin untuk kami meminta bantuan sumur yang tertimbun dengan tanah, tolong dibantu untuk masyarakatnya biar ada air bersih lagi lah,” harap Muammar.
PMI dalam data yang diterima, per Minggu (15/02), total telah mendistribusikan sebanyak 2.541.000 liter air bersih di kabupaten Pidie Jaya.
Distribusi air bersih tersebut telah mencakup wilayah kecamatan yang paling terdampak akses air bersih yakni Meureudu, Meurah Dua, Trieng Gadeng, Bandar Dua, Ulim, dan Jangka Buya.









































