jpnn.com, JAKARTA - Permintaan emas terus meningkat secara global. Melihat tren itu, pebisnis pertambangan nasional perlu memperkuat kemandirian ekosistem industri emas nasional.
Penguatan itu dengan cara peningkatan kapasitas pengolahan logam mulia dalam negeri.
Menurut data World Gold Council, total permintaan emas kuartal I, termasuk transaksi over-the-counter (OTC), naik 2 persen secara tahunan menjadi 1.231 ton.
Kenaikan volume dipandang sangat solid ini, di tengah lonjakan harga emas yang signifikan, mendorong nilai permintaan kuartalan melonjak 74 persen menjadi rekor USD 193 miliar.
Permintaan emas batangan dan koin mencapai 474 ton atau naik 42 persen, menjadi kuartal tertinggi kedua sepanjang sejarah.
Investor Asia menjadi pendorong utama dengan memborong berbagai produk investasi emas secara agresif.
Pengamat BUMN dan Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan mengatakan tren peningkatan permintaan emas yang signifikan, memberikan dua alasan bagi Indonesia khususnya melalui perusahaan tambang emas Negara untuk proaktif dalam meningkatkan produksinya.
Pertama, BUMN pertambangan bisa mengambil peluang peningkatan profit dari lonjakan ini.











































