jpnn.com, MAKASSAR - Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menegaskan urgensi ketahanan energi saat ini identik dengan ketahanan nasional.
Penegasan tersebut disampaikan Eddy dalam menyikapi kenaikan harga minyak mentah dan gas dunia akibat gejolak perang di Timur Tengah saat memberikan kuliah umum di Universitas Hasanuddin Makassar dalam rangkaian acara MPR Goes to Campus.
Menurut Doktor Ilmu Politik UI ini, mengingat sektor industri dan transportasi berperan penting dalam menggerakkan perekonomian nasional, ketahanan nasional Indonesia merupakan satu kesatuan dengan ketahanan energi.
“Ketergantungan dunia, termasuk Indonesia kita terhadap minyak mentah dan gas masih sangat besar, mengingat sektor industri seperti petrokimia, pupuk, farmasi, serat sintetis dan juga sektor transportasi membutuhkan migas sebagai bahan baku dan bahan bakar. Saat ini belum ada substitusi terhadap keduanya,” tegas Eddy.
Eddy mengatakan jika pasokan migas terganggu dan Indonesia kesulitan mendapatkan BBM yang selama ini diimpor, maka kegiatan ekonomi akan melambat atau bahkan terhenti.
"Sudah jelas tidak ada mobil, pesawat terbang dan kapal laut yang dapat beroperasi jika tidak ada BBM. Begitu pula sektor industri yang bergantung pada bahan baku migas juga akan berhenti beroperasi. Dengan kata lain, mobilitas masyarakat dan proses produksi akan lumpuh seketika,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Eddy yang juga menjabat Waketum PAN menyarankan agar pemerintah, khususnya Pertamina mengamankan pasokan migas nasional melalui diversifikasi pasokan dari negara yang tidak terdampak penutupan Selat Hormuz.
Selain itu, mendapatkan pemasok migas yang handal sangat penting saat ini.









































