jpnn.com, JAKARTA - Kehadiran layanan kereta cepat telah mengubah pola perjalanan masyarakat antara Jakarta dan Bandung menjadi lebih cepat dan efisien.
Namun, bagi banyak penumpang, perjalanan sebenarnya tidak berhenti di stasiun, karena tahap akhir perjalanan menuju tujuan masih sering dihadapkan pada kemacetan, kebisingan, serta emisi kendaraan berbahan bakar fosil di kawasan perkotaan.
Kondisi tersebut mencerminkan tantangan mobilitas perkotaan yang masih dihadapi kota-kota besar.
Di satu sisi, transportasi antarkota makin berkembang dengan teknologi yang lebih cepat dan rendah emisi. Di sisi lain, perjalanan menuju dan dari simpul transportasi utama masih didominasi kendaraan konvensional.
Berdasarkan laporan inventarisasi emisi Jakarta, sektor transportasi menyumbang sekitar 46 persen dari total emisi kota, dengan kendaraan jalan raya sebagai kontributor terbesar, terutama di wilayah dengan kepadatan lalu lintas tinggi.
Menjawab tantangan itu, mobilitas listrik menegaskan kehadirannya di Stasiun Whoosh Halim yang dikelola oleh Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Sejak 18 Desember 2025, penumpang dapat melanjutkan perjalanan menuju atau dari stasiun menggunakan taksi listrik dari Green SM Indonesia melalui area penjemputan khusus.
"Seiring meningkatnya mobilitas jarak pendek antara Jakarta dan kota-kota sekitarnya, kebutuhan akan konektivitas transportasi yang lebih bersih semakin mendesak," kata Managing Director Green SM Indonesia, Deny Tjia dalam keterangan resminya dikutip Selasa (5/5).










































