RI Diminta Meniru Belanda soal Teknologi Pascapanen 

2 hours ago 21

RI Diminta Meniru Belanda soal Teknologi Pascapanen 

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Ilustrasi petani cabai. Foto: Humas Hortikultura

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai kenaikan harga cabai rawit merah menjelang Ramadan 2026 merupakan inflasi musiman  yang berulang.

Harga cabai rawit merah yang dalam sepekan terakhir masih berada di kisaran Rp 80.000 per kilogram di sejumlah pasar tradisional, setelah sebelumnya sempat menembus Rp 90.000–Rp 100.000 per kilogram.

“Kenaikan harga cabai dan kebutuhan pangan sebenarnya merupakan seasonal inflationcyang biasanya terjadi saat Ramadan dan Lebaran, ditambah pengaruh cuaca,” kata Esther dikutip Kamis (19/2).

Dia menjelaskan pola kenaikan harga cabai hampir selalu terjadi setiap tahun, terutama ketika curah hujan tinggi yang menghambat panen, sehingga pasokan ke pasar tidak optimal.

“Pemerintah dan pasar seharusnya bisa memprediksi dan merespons kenaikan harga ini karena sudah terjadi berulang kali,” ujarnya.

Esther menekankan pentingnya pengembangan teknologi pascapanen untuk menjaga kualitas dan daya simpan cabai, sehingga pasokan tidak hanya bergantung pada musim panen.

“Teknologi pascapanen perlu digunakan agar cabai lebih awet dan pasokan tetap tersedia kapan pun,” ujar dia.

Dia mencontohkan praktik di sejumlah negara yang mampu menjaga stabilitas pasokan dan harga melalui pengelolaan pascapanen.

Penting pengembangan teknologi pascapanen untuk menjaga kualitas dan daya simpan cabai, sehingga pasokan tidak hanya bergantung pada musim panen.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |