jpnn.com, JAKARTA - Presiden RI Prabowo Subianto menjelaskan pemangkasan anggaran belanja negara pada kementerian dan lembaga untuk menutup penyimpangan dalam penggunaan APBN.
Prabowo mengaku pemangkasan anggaran tersebut pemerintah berhasil menghemat Rp 308 triliun dari penyisiran tahap awal terhadap belanja pusat.
?"Waktu pertama melakukan efisiensi, kita menghemat Rp 308 triliun dari pemerintah pusat. Dari mana itu? Dari semua pengeluaran yang akal-akalan. Keyakinan saya, itu semua Rp 308 triliun ini jika tidak dipotong, ini ke arah korupsi," kata Presiden Prabowo di Jakarta, Jumat (20/3).
Menurut Prabowo, jika dana tersebut dibiarkan tanpa pengawasan dan pemotongan, maka akan menjadi beban bagi keuangan negara tanpa memberikan manfaat bagi masyarakat.
?Selain itu, Prabowo juga menyoroti indikator ekonomi Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang berada di level 6,5, jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga.
Tingginya angka tersebut menunjukkan adanya ketidakefisienan sekitar 30 persen atau setara USD 75 miliar dari total APBN yang mendekati angka Rp 3.700 triliun.
?Sejumlah pos anggaran yang menjadi sasaran pemangkasan meliputi biaya seremonial, pembelian alat tulis kantor, pengeluaran untuk rapat dan seminar di luar kantor.
Prabowo menilai kegiatan-kegiatan tersebut seringkali tidak menyentuh persoalan utama seperti pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja.











































