jatim.jpnn.com, SURABAYA - Anggota Komisi Percepatan Reformasi Polri Badrodin Haiti menanggapi fenomena masyarakat yang lebih memilih melapor ke petugas pemadam kebakaran (damkar) ketimbang ke polisi ketika menghadapi masalah mendesak.
Menurut mantan Kapolri 2015–2016 itu, fenomena tersebut merupakan realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia menilai publik membutuhkan respons cepat dari aparat, tanpa berbelit-belit.
“Tidak hanya ke polisi. Masyarakat ini butuh kecepatan, mau lapor ke balai desa, ke pemerintah, ke kepolisian, semuanya memerlukan respons yang cepat,” ujar Badrodin seusai diskusi publik agenda reformasi kepolisian di Universitas Airlangga, Surabaya, Kamis (27/11).
Badrodin menyebut lambannya respons polisi juga disebabkan oleh rantai birokrasi yang terlalu panjang dalam manajemen kepolisian. Kondisi itu membuat masyarakat beralih ke institusi lain yang dianggap lebih cepat.
“Oleh karena itu, polisi harus berbenah. Kalau sudah disampaikan bahwa ada pengaktifan kembali sistem, harapannya bisa lebih cepat merespons. Beberapa kota bisa dilakukan digitalisasi sehingga secara online terlihat berapa lama responsnya,” katanya.
Meski demikian, Badrodin menegaskan bahwa respons cepat tidak hanya dihitung dari waktu. Sifat keikhlasan dalam melayani dan jiwa civilian police juga menjadi faktor penting.
“Kalau melayani dengan grundel, muka tidak bersahabat, masyarakat juga tidak nyaman. Keikhlasan itu perlu diteladani oleh polisi,” tegasnya.
Sebelumnya, Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo mengakui bahwa kecepatan respons Polri masih kalah dari Damkar. Rata-rata waktu tanggap aduan masyarakat di Polri masih di atas 10 menit, sementara Damkar jauh lebih cepat.



































