jpnn.com, JAKARTA - Eskalasi konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah, diprediksi akan meningkatkan volatilitas harga energi global serta membengkaknya biaya logistik perdagangan internasional.
Head of Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani menjelaskan perkembangan konflik dan implikasinya terhadap jalur energi internasional terus dipantau secara ketat.
Hal tersebut dilakukan demi menjaga stabilitas arus perdagangan global ke depannya.
“Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” ujar Rini, dikutip Jumat (20/3).
Kawasan Timur Tengah memegang peran vital dalam sistem energi dunia dengan kontribusi lebih dari 30 persen produksi minyak global.
Gangguan pada Selat Hormuz, yang dilalui oleh 20 hingga 30 persen perdagangan minyak dunia, dapat memicu kenaikan harga energi dan biaya logistik secara mendadak.
Meskipun impor minyak Indonesia tidak berasal langsung dari Timur Tengah, dampaknya tetap akan terasa melalui jalur regional.
Sekitar 75 persen impor minyak Indonesia diketahui berasal dari Singapura dan Malaysia yang mengolah minyak mentah dari kawasan Teluk.











































