jpnn.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) IHSG dibuka menguat 19,04 poin atau 0,24 persen ke posisi 7.954,30 pada Senin (9/2).
Analis Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya memproyeksikan IHSG bergerak volatil di tengah pelaku pasar mencermati hasil penilaian maupun outlook lembaga pemeringkat global terhadap pasar keuangan Indonesia.
Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 2,60 poin atau 0,32 persen ke posisi 818,18.
"IHSG dalam waktu dekat adalah berusaha naik kembali ke atas level psikologis 8.000 serta tutup gap di level 8.102 sebagai resistance pertama. Namun, Kiwoom Research juga ingatkan masih adanya risiko konsolidasi lanjutan ke arah 7.710-7.480, jika support 7.860 kembali runtuh," ujar Liza di Jakarta, Senin.
Liza menyebut dari dalam negeri, sentimen makin tertekan oleh akumulasi isu MSCI, downgrade Bursa oleh Goldman Sachs dan UBS plus Nomura, serta Moody's yang menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski mempertahankan peringkat sovereign di level Baa2.
Sejalan outlook sovereign Indonesia yang negatif, Moody's memangkas outlook perusahaan, seperti BMRI, BBRI, BBNI, BBCA, BBTN serta TLKM, ICBP, UNTR (termasuk Telkomsel, Pertamina, Pertamina Hulu, dan MIND ID) menjadi negatif, dengan risiko penurunan peringkat meningkat jika kredibilitas kebijakan, konsistensi fiskal, dan efektivitas komunikasi pemerintah tidak membaik.
Dalam menyikapi hal itu, BEI merilis aturan baru free float IPO dengan porsi saham publik minimal 15-25 persen sesuai kapitalisasi pasar, sementara OJK menegaskan IPO pada kuartal I 2026 yang sudah masuk pipeline, tetap memakai ketentuan lama minimum 7,5 persen.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) merespons dengan menegaskan komitmen menjaga stabilitas rupiah dan inflasi melalui stance pro-growth, sembari mengantisipasi risiko sudden capital reversal.










































