jpnn.com - Ramadan adalah bulan yang suci bagi umat Islam di seluruh dunia.
Namun, kesucian tersebut ternoda di Republik Islam Iran, saat umat di sana sedang khusyuk mengerjakan ibadah, Amerika Serikat (AS) dan Israel melakukan serangan mematikan.
Seketika, semua berubah menjadi petaka dan keprihatinan setelah 28 Februari, rudal-rudal AS-Israel menyerang secara massif.
Tak hanya mengakibatkan hancurnya berbagai infrastruktur di Teheran dan berbagai kota lainnya.
Serangan kali ini juga menewaskan pemimpin tertinggi, Ayatullah Ali Khameini, beserta para elit politik dan militer lainnya.
Seolah, AS mengulangi apa yang dilakukannya di Venezuela, awal tahun ini, ketika berhasil menangkap Presiden Nicolás Maduro dan membawanya ke Washington, DC.
Mungkin Presiden Donald Trump berpikir bahwa setelah mengeliminasi Khameini, akan terjadi perubahan rezim di Teheran dalam waktu singkat.
Faktanya tidak demikian, dimana sesaat setelah meninggalnya Khameini—bahkan sebelum penggantinya ditunjuk—Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengonfirmasi akan melakukan serangan balasan dalam skala besar.










































