jatim.jpnn.com, SURABAYA - Perang yang memanas antara Israel dan Iran dinilai berpotensi memengaruhi sektor pariwisata global.
Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (Ubaya) Prita Ayu Kusumawardhany menyebut konflik geopolitik tersebut dapat menimbulkan berbagai risiko yang berdampak pada industri pariwisata, termasuk penurunan jumlah wisatawan.
Menurut dia, pemerintah dan pelaku usaha pariwisata perlu menyiapkan strategi agar sektor tersebut tetap bertahan di tengah situasi global yang tidak menentu.
Prita mengatakan pemerintah dapat mempromosikan Indonesia sebagai destinasi yang aman dan stabil melalui kampanye digital untuk membangun kepercayaan wisatawan.
Selain itu, fokus pada pasar wisatawan jarak dekat (short-haul traveler) serta memperkuat kerja sama dengan maskapai internasional juga dapat menjadi langkah strategis.
“Koordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga harus dilakukan. Dukungan bagi agen perjalanan domestik, misalnya melalui subsidi tiket perjalanan dalam negeri, bisa menarik wisatawan untuk tetap bepergian,” kata Prita.
Dia juga merekomendasikan penggunaan sistem pemantauan berbasis teknologi di destinasi wisata yang ramai untuk meningkatkan rasa aman bagi wisatawan.
Menurut dia, penerapan teknologi tersebut dapat dilakukan di berbagai destinasi populer, seperti Bali. Selain itu, Prita mengusulkan pelaku usaha pariwisata menerapkan strategi dual market.







































