jpnn.com, JAKARTA - Kesehatan anak, khususnya pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau golden window, masih menjadi perhatian utama di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Berbagai tantangan kesehatan anak seperti gangguan kesehatan saluran cerna, alergi, hingga kekurangan zat besi dan anemia masih menjadi isu yang memerlukan pendekatan komprehensif berbasis sains dan praktik klinis terkini.
Hal ini menjadi fokus dalam Pediatric Science & Health Summit 2026 bertajuk "Advancing Science for Clinical Excellence" yang diselenggarakan Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) dan IDAI Cabang Bali pada 7-9 Agustus 2026 di Nusa Dua, Bali.
Forum ini mempertemukan para pakar kesehatan anak dari berbagai disiplin ilmu dan negara untuk bertukar pengalaman serta perspektif terkait berbagai tantangan kesehatan anak.
Selain itu, forum ini menjadi wadah untuk berbagi temuan penelitian terkini sekaligus mendorong pengembangan solusi inovatif yang didukung oleh keahlian ilmiah dan kemajuan teknologi.
Turut hadir memberikan keynote speech dalam Pediatric Science & Health Summit 2026, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD, Ph.D. yang menekankan bahwa investasi pada kesehatan otak dan perkembangan kognitif anak sejak 1.000 HPK merupakan investasi strategis bagi masa depan bangsa.
"Periode 1.000 HPK paling menentukan bagi kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Proses perkembangan anak pada periode tersebut sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi serta kemampuan otak untuk terus berkembang melalui mekanisme neuroplastisitas," ujar Taruna Ikrar.
Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan juga menunjukkan adanya hubungan erat antara saluran cerna dan otak melalui gut-brain axis.








































