jpnn.com, PALEMBANG - Sejarah tidak selalu hadir melalui buku pelajaran dengan bahasa yang kaku. Begitulah yang dipahami penulis novel Leiden, Hasbunallah Haris.
Menurut dia, sejarah justru dapat dikemas menjadi cerita yang seru, penuh misteri, sekaligus dekat dengan kehidupan generasi muda.
Novel Leiden mengangkat kisah manuskrip kuno Nusantara yang ditulis pada 1920 oleh seorang Anggota dinas intelijen Belanda.
Dalam manuskrip tersebut diceritakan mengenai harta Karun yang dikubur Belanda.
Puluhan tahun kemudian, tepatnya pada 2020, naskah tersebut kembali menjadi rebutan.
Gagasan menghadirkan sejarah dalam bentuk cerita fiksi, muncul dari pengalaman Hasbunallah Haris yang merasa pembelajaran sejarah semasa sekolah kurang menarik.
"Saya pikir, bagaimana kalau sejarah ini diceritakan dengan lebih asyik," ujar Hasbunallah, Senin (24/8).
Menurut Hasbunallah, novel menjadi salah satu cara untuk membuat sejarah lebih mudah diterima pembaca tanpa harus menggunakan bahasa yang terlalu formal.









































