jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan pentingnya membangun mekanisme pembelajaran yang adaptif di sejumlah wilayah.
Hal itu untuk menjamin keberlangsungan pendidikan di tengah ancaman bencana alam yang melanda di tanah air.
"Indonesia adalah kawasan rawan bencana. Pembangunan sistem pendidikan yang responsif terhadap ancaman bencana harus diwujudkan, bukan sekadar reaksi sesaat," kata WLestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/8).
Rentetan bencana alam yang melanda Indonesia dalam sepekan terakhir, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan hingga gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menguji ketahanan sektor pendidikan nasional.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerbitkan protokol pembelajaran darurat di sejumlah wilayah terdampak bencana tersebut.
Menurut Lestari, tantangan yang harus segera dijawab adalah bagaimana teknis pelaksanaan pembelajaran darurat itu, sehingga proses belajar mengajar tetap berlangsung dan hak anak tidak terampas di tengah krisis.
Sejatinya, tegas Rerie, sapaan akrab Lestari, data yang ada saat ini menunjukkan urgensi untuk menghadirkan mekanisme pembelajaran yang adaptif dalam merespons tantangan yang beragam.
"Berdasarkan Peta Risiko Bencana BNPB 2023, terdapat lebih dari 70.000 satuan pendidikan dari PAUD hingga SMA/SMK yang berada di wilayah berpotensi bencana dengan risiko bahaya sedang hingga tinggi," kata Rerie.









































