Jangan Cepat Membuang Air Hujan dari Kota

23 hours ago 16

Oleh: Uly Amrina

Jangan Cepat Membuang Air Hujan dari Kota

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Pengelolaan air hujan. Ilustrasi. Foto: Source for JPNN

jpnn.com - Setiap kali hujan deras mengguyur kota, kita seperti memiliki satu refleks yang sama: bagaimana secepat mungkin membuang air itu dari kawasan permukiman.

Drainase diperbesar. Saluran dibersihkan. Pompa dinyalakan.

Air dialirkan menuju sungai, lalu secepat mungkin meninggalkan kota.

Namun, beberapa bulan kemudian, ketika musim kemarau datang, kita justru sibuk mencari air.

Tanaman harus disiram. Lahan pertanian perkotaan membutuhkan pasokan air.

Cadangan air tanah semakin terbatas. Pada titik inilah muncul sebuah paradoks: air yang kita anggap sebagai ancaman ketika hujan, justru menjadi sumber daya yang kita cari ketika kemarau.

Mungkin persoalan kota bukan semata-mata terlalu banyak atau terlalu sedikit air. Persoalan sebenarnya adalah bagaimana kota memperlakukan air hujan.

Dari Air Banjir Menjadi Sumber Daya

Air yang kita anggap sebagai ancaman ketika hujan, justru menjadi sumber daya yang kita cari ketika kemarau.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |