jpnn.com, JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah masih memiliki kemampuan untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga akhir tahun.
Harga minyak dunia belakangan melambung tinggi USD 100 per barel buntut perang antara Amerika Serikat AS-Israel vs Iran. Adapun kenaikan harga ini menjadi rekor tertinggi sejak 2022.
"Sampai sekarang belum ada hitungan untuk menaikkan harga BBM, karena kami punya uang masih cukup untuk level harga BBM yang sekarang," kata Purbaya seusai mengunjungi Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, Selasa.
Purbaya menyebut pemerintah mengandalkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebagai peredam guncangan untuk menjaga daya beli masyarakat.
"Fungsi anggaran meng-'absorb shock' dari luar. Sampai sekarang yang 'absorb' adalah APBN pemerintah," ujarnya.
Dia menambahkan kemampuan fiskal tersebut memungkinkan pemerintah menahan harga BBM hingga akhir tahun.
"Kalau presiden maunya sampai akhir tahun juga bisa. Jadi, saya punya uang cukup banyak. Yang masih bisa dipakai, yang pengamat, pengamat itu, enggak tahu uangnya di mana," ujarnya.
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menyebut harga minyak dunia melonjak hingga melampaui USD 100 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.










































