jateng.jpnn.com, SEMARANG - Tiga dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes) berhasil merampungkan penelitian inovatif yang memanfaatkan apofenia dalam seni akuarel sebagai media intervensi “detoksifikasi digital” bagi Generasi Alpha.
Penelitian ini muncul sebagai respons atas berbagai dampak baru terhadap perkembangan kognitif anak akibat meningkatnya dominasi interaksi digital pada Generasi Digital Native.
Dalam penelitian bertajuk “Ketidaksengajaan Artistik menjadi Fungsi: Perancangan Media Seni Terapan Berbasis Apofenia Aquarelle Kontekstual untuk Generasi Digital Native” ini diketuai oleh Dwi Candra Purnamasari, dengan dua anggota peneliti, yakni Dwi Pangesti Aprilia, dan Moh. Yudik Al Faruq.
Ketua Tim Peneliti Dwi Candra Purnamasari mengatakan Gen Alpha yang lahir di era digital tinggi kini cenderung mengurangi kepekaan taktil serta melemahkan kemampuan meaning-making yang reflektif.
“Paparan visual instan dan pola konsumsi pasif menyebabkan anak kurangterlatih dalam mengonstruksi makna secara mendalam,” kata Dwi Candra kepada JPNN.com, Kamis (23/7).
Menurutnya, fakta menunjukkan bahwa anak-anak Generasi Digital Native kini lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar gadget ketimbang berinteraksi secara fisik dan sensorik.
“Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai perkembangan kapasitas kognitif mereka di masa depan,” katanya.
Dalam konteks tersebut, tim peneliti Unnes mengembangkan pendekatan baru melalui pemanfaatan fenomena apofenia atau kecenderungan manusia menemukan pola atau makna dalam informasi acak.







































