jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah memastikan impor produk hortikultura dari Amerika Serikat yang sesuai Agreement on Reciprocal Tariff (ART) tidak akan mengganggu program swasembada pangan nasional.
Anggota Tim Pakar Bakom RI Fitra Faisal Hastiadi mengatakan impor jagung, kapas, hingga beras disebut bersifat terbatas dan tetap mengutamakan kepentingan petani dalam negeri.
Menurut dia, pembelian komoditas pangan dari AS dilakukan secara selektif dan tidak dimaksudkan untuk menekan produksi domestik.
Sejumlah komoditas yang diimpor justru tidak bersinggungan langsung dengan produksi nasional dalam skala besar.
“Kalaupun ada irisan, pemerintah tetap punya ruang untuk mengatur. Setiap kebijakan impor akan dikoordinasikan dengan kementerian teknis terkait. Kalau dinilai mengganggu kepentingan ekonomi petani lokal, kita bisa meninjau ulang,” ucap Fitra di kantor Bakom, Jakarta Pusat, pada Rabu (26/2).
Fitra menegaskan, dalam perjanjian ART terdapat escape clause berbasis kepentingan nasional.
Klausul tersebut memberi ruang bagi Indonesia untuk menunda atau menyesuaikan implementasi komitmen dagang apabila terbukti merugikan kepentingan strategis di dalam negeri, termasuk swasembada pangan dan ketahanan pangan.
Dia juga menepis kekhawatiran soal impor beras dari AS yang dikhawatirkan memukul harga gabah petani.











































