jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Rendahnya literasi keuangan masih menjadi tantangan besar di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Kondisi tersebut dinilai turut mendorong meningkatnya perilaku konsumtif, fenomena doom spending, hingga penggunaan pinjaman online (pinjol) secara tidak bijak, khususnya di kalangan Generasi Z.
Persoalan itu mengemuka dalam seminar literasi keuangan yang digelar di Universitas Islam Bandung (Unisba). Kegiatan tersebut melibatkan ratusan mahasiswa dan pelajar, dengan menghadirkan sejumlah pakar dari sektor jasa keuangan, perbankan, akademisi, hingga Satgas Anti Rentenir.
Rektor Unisba, Prof Harits Numan mengatakan, kemudahan transaksi di era digital harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan secara bijak.
"Tanpa literasi keuangan yang baik, kami akan sulit membedakan mana kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan," kata Harits, Jumat (12/6/2026).
Menurut dia, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan tertinggal tren saat ini banyak dialami generasi muda. Kondisi tersebut berpotensi mendorong perilaku konsumtif apabila tidak dibarengi pemahaman keuangan yang memadai.
"Mudah-mudahan dengan adanya literasi ini, mereka sudah punya wawasan punya gambaran dampaknya seperti apa, kemudian dia mengikuti norma yang ada untuk melakukan transaksi ataupun melakukan proses peminjaman itu dipikirkan dampak ke depannya," jelasnya.
Harits berharap kegiatan literasi keuangan tidak sekadar menambah pengetahuan peserta, tetapi juga mampu mengubah pola pikir dan perilaku dalam mengelola keuangan pribadi.




































