jpnn.com, JAKARTA - Zulhaida Sitanggang seorang guru melihat peluang usaha dari tumpukan gelas dan piring retak yang sudah tak lagi bisa dijual.
Dia menghiasnya dengan tali dari kain bekas, lalu menjualnya secara daring sebagian hasil disumbangkan kembali untuk kegiatan amal.
Dua buah gelas hias pertamanya langsung terjual seharga seratus ribu rupiah, awal kecil yang menyalakan rasa ingin tahunya pada bahan-bahan lain.
Hal itu membawanya pada rangkaian bunga berbahan kulit jagung yang ia lihat saat berkunjung ke rumah saudara.
Zulhaida belajar secara otodidak lewat video tutorial, sembari mengolah kulit jagung bekas yang ia ambil sendiri dari tempat sampah pasar tradisional.
Percobaan pertamanya jauh dari sempurna, namun satu unggahan di media sosial cukup menarik minat pembeli dan membuka jalan bagi usahanya.
Perhatian seorang perajin senior menjadi titik penting berikutnya. Dia membimbing Zulhaida memperbaiki teknik pengolahan agar hasil kerajinan lebih tahan lama dan tidak mudah berjamur.
Usaha yang kemudian diberi nama Aida Craft itu mulai dikenal lewat undangan pernikahan dan ulang tahun, tempat Zulhaida membagikan rangkaian bunganya sebagai hadiah sekaligus ajang promosi, hingga akhirnya diliput sejumlah media lokal.

















































