jpnn.com, JAKARTA - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi mengajak seluruh lapisan masyarakat bertindak proaktif dalam melaporkan segala bentuk indikasi eksploitasi dalam aktivitas digital yang membahayakan anak, termasuk judi online alias judol.
Untuk itu, Kementerian PPPA telah membuka saluran langsung atau hotline telepon guna menampung laporan masyarakat.
"Masyarakat dapat memanfaatkan layanan pengaduan resmi melalui Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129 atau melalui WhatsApp di nomor 08111-129-129," kata Menteri Arifatul di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Menteri yang kondang disapa dengan panggilan Arifah itu menegaskan upaya proaktif tersebut sangat penting karena paparan judol merusak realitas hidup anak Indonesia. Efek judol pada anak-anak pun beragam.
"Di lapangan, jeratan judi online terbukti memicu gangguan mental hingga kecanduan ekstrem, penurunan drastis prestasi akademik akibat hilangnya fokus belajar, hingga memicu perilaku kriminal sekunder," katanya.
Lebih lanjut Menteri Arifah menjelaskan anak-anak yang terjebak judol berpotensi bertindak nekat dengan mencuri uang orang tua, berbohong, melakukan penipuan digital di lingkungan pertemanan, hingga terlibat pinjaman online (pinjol) ilegal demi ikut taruhan berikutnya.
Data Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat saat ini terdapat 200 ribu anak yang terpapar judol. Menteri Arifah menegaskan melindungi anak dari paparan judol menjadi urgensi nasional yang setara pentingnya dengan mencegah mereka dari konten negatif lain, seperti game online adiktif dan pornografi.
Arifah menyebut judol, gim adiktif, dan pornografi merupakan ancaman selevel yang mengeksploitasi dopamin anak dan merusak fungsi otak depan (prefrontal cortex) yang mengatur kendali emosi serta pengambilan keputusan.







































