jpnn.com, CILACAP - Komisi XIII DPR RI bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto meninjau Balai Latihan Kerja pengolahan Flying Ash and Bottom Ash serta tempat pengembangbiakan sidat di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Kedua lokasi itu dikelola langsung oleh warga binaan pemasyarakatan.
Dalam kunjungan itu, tim melihat 15 narapidana tengah mengolah FABA menjadi batako dan paving block. Empat orang menuangkan bahan ke mesin cetak, empat lainnya menerima hasil cetakan, dan tujuh warga binaan menyusun paving block yang telah jadi.
Anggota Komisi XIII DPR Fraksi PDIP, Marinus Gea, menyebut kegiatan itu sebagai bentuk pelatihan keterampilan yang layak dicontoh.
“Kita sedang berada di workshop-nya FABA, tempat kreativitas, produktivitas Nusakambangan untuk bagian dari penyatuan warga binaan kepada masyarakat. Mereka dilatih untuk bisa melakukan produktivitas dengan menggunakan bahan-bahan yang diambil dari limbah-limbah industri, termasuk limbah PLTU,” katanya.
Ia menambahkan, pemanfaatan limbah PLTU Adipala itu menjadi contoh usaha mikro yang berkembang di dalam lapas.
“Nah, FABA ini salah satu contoh UMKM yang dibangun di dalam lapas, di dalam Pulau Nusakambangan ya, sebagai aktivitas dari para warga binaan. Dan sangat produktif sekali karena semua limbah-limbah itu bisa bermanfaat,” ujarnya.
Marinus mengaku terinspirasi melihat warga binaan mengubah limbah menjadi bahan bangunan. Menurutnya, produk seperti batako dapat dipakai untuk pembangunan jalan, rumah, dan fasilitas umum lainnya.
“Jadi, buat untuk membangun ekonomi rakyat, ini bisa menjadi salah satu inspirasi yang sangat populer dan bagus. Murah lagi,” tuturnya.










































