jpnn.com, JAKARTA - Potensi energi surya di Indonesia mencapai lebih dari 3.000 gigawatt (GW) dan salah satu yang terbesar di dunia. Namun, pemanfaatannya masih sangat terbatas.
Di tengah kebutuhan investasi energi bersih yang terus meningkat untuk mendukung target dekarbonisasi, skema pembiayaan inovatif seperti green sukuk dinilai dinilai bisa mempercepat pengembangan energi surya nasional.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Green Sukuk untuk Transisi Energi: Model Pembiayaan Inovatif bagi Program 100 GW Energi Surya” di Katadata, Jakarta, Selasa (10/3).
Forum ini menghadirkan perwakilan dari Kementerian Keuangan, Kementerian Agama, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Kementerian Koperasi dan UKM, serta beberapa lembaga lainnya untuk membahas peluang inovasi pembiayaan dalam mempercepat investasi energi surya di Indonesia.
Adapun kegiatan ini diselenggarakan oleh Muslims for Shared Action on Climate Impact (MOSAIC) bekerja sama dengan Katadata dan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).
Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Deni Ridwan mengatakan pemerintah terus mengoptimalkan berbagai instrumen fiskal untuk mendorong ekonomi hijau, termasuk melalui pembiayaan syariah.
Deni menjelaskan Indonesia merupakan salah satu pionir penerbitan green sukuk di pasar global.
“Instrumen tersebut telah dimanfaatkan untuk membiayai berbagai proyek ramah lingkungan, mulai dari energi terbarukan, transportasi rendah karbon, hingga pengelolaan limbah dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan,” jelas Deni.










































