jpnn.com, JAKARTA - Langkah pemerintah menyesuaikan harga BBM Ron 92 (Pertamax) menjadi Rp 16.250 per liter dinilai sudah tepat.
Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono menyebut langkah ini sulit dihindari karena Pertamina telah menahan harga jual BBM nonsubsidi di bawah harga keekonomiannya selama beberapa bulan.
“Akhirnya, setelah beberapa waktu ditahan, BBM nonsubsidi tidak bisa lagi ditahan sehingga dilepas mengikuti mekanisme pasar. Karena itu, kenaikan yang sekarang terjadi cukup tinggi. Mau tidak mau Pertamax harus naik,” kata Hendry saat dihubungi, Jumat (12/6).
Hendry menjelaskan selama ini Pertamina menggunakan dana talangan perusahaan untuk menahan Pertamax di bawah harga keekonomian.
Namun, dana talangan Pertamina pada dasarnya merupakan instrumen sementara untuk meredam lonjakan harga agar tidak langsung dirasakan masyarakat.
Hendry menjelaskan ketika kurs rupiah dan harga minyak terus bergerak naik, ruang untuk mempertahankan kebijakan tersebut makin sempit.
"Dana talangan Pertamina ini juga terbatas. Tidak ada subsidi APBN di dalamnya. Jadi, kenaikan Pertamax murni mengikuti harga pasar," jelas Hendry.
Ia menambahkan, apabila Pertamina terus-menerus menanggung selisih harga tanpa penyesuaian, kondisi tersebut dapat menggerus keuntungan perusahaan.





































