jpnn.com, AMSTERDAM - Sejarawan sekaligus aktivis asal Indonesia, Bonnie Triyana, menjadi pembicara dalam sebuah diskusi mendalam yang diselenggarakan di Amsterdam, Belanda, pada Senin (4/5). Acara yang digelar oleh Omroep ZWART dan OBA Next Lab itu bertepatan dengan peringatan berakhirnya Perang Dunia Kedua di Belanda.
Dalam diskusi yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 20.15 waktu setempat di Perpustakaan Umum Kraaiennest, Amsterdam Zuidoost, Bonnie berbincang dengan sejarawan dan penulis Belanda, Lara Nuberg, yang bertindak sebagai moderator.
Diskusi yang menggunakan bahasa Inggris dan terbuka untuk umum ini mengangkat tema sentral tentang bagaimana cara masyarakat memperingati sejarah, khususnya terkait akhir Perang Dunia Kedua dan proses dekolonisasi Belanda di Indonesia. Bonnie Triyana menekankan pentingnya kedua bangsa, Indonesia dan Belanda, untuk memperkuat pemahaman sejarah bersama, terutama pada periode-periode traumatik seperti era 1945-1949.
“Pelajaran sejarah harus membebaskan diri dari belenggu trauma masa lalu sekaligus memutus rantai kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat, khususnya di ranah pendidikan,” ujar Bonnie di hadapan puluhan warga Belanda dari berbagai latar belakang, termasuk Suriname, Afrika, Indonesia, dan sejumlah bekas koloni Belanda lainnya.
Dalam kesempatan itu, anggota Komisi X DPR RI ini juga menyampaikan pandangannya tentang bagaimana kolonialisme Belanda mewariskan persoalan ketidakadilan antara dunia utara dan belahan dunia selatan. Bonnie menjelaskan bahwa Indonesia, yang dikenal sebagai eksportir bahan mentah seperti hasil perkebunan hingga pertambangan, terus menjadi incaran.
“Jika masa VOC Indonesia menjadi incaran karena hasil rempah-rempahnya, maka kini Indonesia menjadi incaran karena hasil tambangnya, terutama nikel,” katanya.
Bonnie menambahkan bahwa kolonialisme Belanda merawat feodalisme sebagai cara mengontrol rakyat dan sumber kekayaan alam. Hubungan antara elit dan rakyat pada masa itu bercorak patron-klien. Politisi PDI Perjuangan ini mencontohkan Soewardi Suryaningrat, yang kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, yang diasingkan ke Belanda karena kritik pedasnya terhadap pemerintah kolonial.
“Kebebasan bicara pada era kolonial adalah kemewahan yang tak mungkin diperoleh oleh rakyat. Kritik pada era kolonial menjadi tindakan kepahlawanan,” jelas Bonnie.










































