jpnn.com, JAKARTA - Pasar modal Indonesia berhasil mencatatkan performa gemilang pada perdagangan paruh pekan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (25/6/2026) sore ditutup menguat signifikan menyusul meredanya tensi geopolitik global.
IHSG mengakhiri hari dengan kenaikan sebesar 115,16 poin atau 1,96 persen ke level 5.999,04. Sejalan dengan indeks utama, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga ikut terkerek naik sebesar 9,58 poin atau 1,66 persen menuju posisi 587,75.
"Bursa Asia didominasi penguatan karena sentimen investor didukung oleh kemajuan upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang membantu mendorong harga minyak kembali ke level sebelum konflik," ujar Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus alias Nico saat dihubungi Antara di Jakarta, Kamis.
Nico mengatakan koreksi harga minyak telah meredakan kekhawatiran inflasi, dan mengurangi tekanan bagi bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya.
Sementara itu, dari China, People's Bank of China (PBoC) menyatakan akan melakukan overnight reverse repurchase operations pada Senin (29/06) dan Selasa (30/06), guna meningkatkan pengelolaan likuiditas jangka pendek di sistem perbankan.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mencatat peningkatan aliran dana asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor satu tahun dan obligasi pemerintah, dengan total dana masuk mencapai sekitar Rp105 triliun sepanjang Juni hingga saat ini.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran setelah peringkat daya saing Indonesia dalam World Competitiveness Ranking turun 21 peringkat.









































