jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah mengambil langkah konkret untuk meredam tekanan nilai tukar rupiah yang kini menyentuh Rp 17.500 per USD.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pihaknya akan menjaga tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) di pasar obligasi.
“Kami akan mulai membantu (bank sentral) besok, mungkin dengan masuk ke bond market,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Selasa.
Purbaya mengatakan stabilisasi dilakukan melalui bond stabilization fund (BSF) dengan menggunakan anggaran yang tersedia serta dimungkinkan melalui mekanisme buyback.
Adapun intervensi di pasar obligasi dilakukan untuk menahan kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN).
Purbaya mengingatkan, kenaikan yield yang berlebihan dapat memicu capital loss bagi investor asing dan mendorong arus modal keluar.
“Kami kendalikan itu supaya asing tidak keluar, atau malahan masuk kalau yield-nya membaik. Sehingga rupiah akan menguat. Kami akan masuk mulai besok,” kata dia.
Pada kesempatan tersebut, Purbaya juga memastikan perhitungan APBN masih relatif aman meski rupiah telah berada di atas asumsi APBN 2026, karena simulasi fiskal menggunakan asumsi kurs rupiah yang lebih tinggi.











































