Warga Indonesia yang tinggal di Australia akan turut merasakan dampak dari pengumuman 'budget' atau APBN di Australia semalam (12/05).
Isu perumahan menjadi salah satu sorotan terbesar dalam APBN tahun ini, terutama karena pemerintah mengatakan ingin membangun sistem yang lebih adil bagi generasi muda Australia.
Salah satu yang akan terdampak adalah Rosa Dhayan, warga Indonesia di Brisbane, Queensland, Australia.
Mahasiswi S2 jurusan pekerjaan sosial di Southern Cross University tersebut tinggal cukup jauh dari kampus dan tempat kerjanya demi mendapatkan sewa yang terjangkau.
Ia harus menempuh sekitar dua jam dengan transportasi umum ke kampus di Gold Coast, serta sekitar 30 menit berkendara ke tempat kerja.
"Saya berharap perubahan dari housing policy bisa membantu untuk meningkatkan supply dan meringankan harga karena demand dan kompetisi yang lumayan tinggi antara imigran dan juga lokal," katanya.
Rosa tinggal bersama pasangannya, dan membagi biaya sewa dan tagihan sebesar A$450 (Rp5,7 juta) per minggu.
"Saya ada kekhawatiran mengenai [kebijakan perumahan] ini, terlebih soal harga sewa yang bisa kemungkinan naik dan juga ketersediaan properti untuk disewakan yang mungkin akan semakin sedikit," katanya.











































