jpnn.com, CIANJUR - Pengembangan potensi energi panas bumi (geothermal) di Kabupaten Cianjur harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat lokal.
Warga Cianjur ditegaskan tidak boleh sekadar menjadi penonton atau pihak yang dipinggirkan, melainkan harus tampil sebagai tuan rumah di tanahnya sendiri.
Pesan lugas tersebut disampaikan oleh aktivis muda nasional sekaligus Ketua Umum PB HMI 2013–2015, M. Arief Rosyid Hasan dalam gelaran Geothermal Fun Day yang diinisiasi Indonesia Geothermal Golf Community (IGGC) dan Inisiatif Daulat Energi (IDE) di Sapong Space, Cianjur, Minggu (6/9).
Arief menilai dinamika serta resistensi yang sempat muncul di tengah masyarakat berakar dari kekhawatiran bahwa hadirnya proyek energi besar tidak memberikan dampak langsung bagi warga sekitar. Padahal, potensi alam daerah seharusnya menjadi pintu masuk keberkahan dan kemajuan ekonomi lokal.
"Hikmah terkait potensi panas bumi di Cianjur ini relate dengan ajaran agama. Kalau bersyukur, setiap kesyukuran akan bertambah nikmat. Jadi kalau bersyukur dengan potensi geothermal di Cianjur, kenikmatan lapangan kerja dan potensi ekonomi akan datang bersama peluang-peluang lain. Warga Cianjur harus jadi tuan rumah di daerah sendiri," ujar Arief.
Dia juga menegaskan pentingnya meninggalkan pola-pola lama dalam mengelola kebijakan energi nasional dan pembangunan daerah.
"Mustahil melihat masa depan Indonesia yang baik dengan cara lama. Mustahil kita menjadi bangsa maju jika masih bertahan dengan energi fosil. Sesuatu yang baru bisa dicapai jika caranya baru, pikirannya baru, dan orang-orangnya baru. Jika kolaborasi pentahelix ini berjalan, insya Allah kebijakan EBT akan didukung penuh," tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Rektor UNPI Cianjur Dodi Faraitody menekankan bahwa pelibatan publik secara bermakna menjadi syarat mutlak agar masyarakat merasa memiliki dan terlindungi.

















































