jpnn.com, JAKARTA - Peneliti senior Citra Institute, Efriza menyoroti pelantikan Adela Kanasya Adies sebagai anggota DPR RI menggantikan ayahnya, Adies Kadir.
Menurut Efriza, meski secara aturan Adela berhak menempati posisi tersebut karena merupakan peraih suara terbanyak kedua dari Partai Golkar, tetapi publik akan terus mencermati kinerjanya.
"Fakta di lapangan, Adela Kanasya Adies telah resmi dilantik menjadi anggota DPR RI menggantikan ayahnya, Adies Kadir. Ia memang yang berhak untuk menempati pengganti Adies Kadir sebab posisinya adalah peraih suara peringkat kedua dari partai yang sama yakni Golkar," ujar Efriza kepada JPNN.com, Rabu (13/5).
Namun, Efriza menekankan bahwa sorotan publik bukan tertuju pada Adela semata, melainkan pada "pindah karir" Adies Kadir ke Mahkamah Konstitusi (MK) yang sebelumnya penuh kontroversi.
Bahkan, jika menilik ke belakang, kata Efriza, hal itu terkait dengan komunikasi politik yang kurang tepat dilakukan oleh Adies.
Dia menjelaskan kinerja Adela sebagai anggota DPR RI akan lebih disorot oleh masyarakat.
"Sebab, meski ia memperoleh suara terbanyak kedua, tetapi proses Adies yang kontroversi dari lembaga DPR tentu saja Adela akan terus disorot oleh publik dengan kenyataan ia adalah anak dari Adies," jelas Efriza.
Dia menambahkan, penggantian antarwaktu (PAW) sudah tepat. Namun, nuansa politik kekerabatan antara Adies dan Adela inilah yang ditengarai akan membebani pundak Adela dalam bekerja.











































