jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik Adi Prayitno menangkap dua hal ketika menganalisis pernyataan Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang berbicara kekuasaan bukan bersifat selamanya dan untuk orang tertentu.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia itu menyebut pernyataan AHY secara normatif bisa dianggap bahwa kekuasaan ada batas dan tak bisa melekat ke satu orang.
"Secara alamiah kekuasaan akan berganti," ujar Adi melalui layanan pesan, Senin (7/9).
Kedua, kata dia, pernyataan AHY soal kekuasaan bukan bersifat selamanya dan untuk orang tertentu bisa dibaca publik sebagai bentuk insinuasi politik.
Menurut Adi, pernyataan AHY tentu tak ditujukan ke Hambalang. Publik bisa membaca sikap itu ditujukan ke poros politik di Solo yang dianggap masih lapar kekuasaan.
"Banyak pihak yang membaca pernyataan AHY sebagai bentuk sindiran terbuka ke kekuatan politik Solo yang dikesankan publik tak mau berhenti sekali pun sudah tak berkuasa," ujarnya.
Adi menjelaskan publik bisa menilai laparnya politik Solo berkuasa dari pernyataan Ketum ProJo Budi Arie Setiadi soal percepatan pemilu sebelum 2029.
Dia pun menganggap pernyataan AHY yang mewakili poros politik Cikeas dengan menyindir Solo, tentu membentuk rivalitas menyambut Pilpres 2029.

















































