jpnn.com, JAKARTA - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah ketidakpastian ekonomi rupanya masih menunjukkan tren positif.
Hingga akhir Mei 2026, pendapatan negara tumbuh sebesar 19,1 persen (yoy) atau mencapai Rp 1.185 triliun, sedangkan belanja negara tumbuh lebih tinggi sebesar 34,4 persen (yoy).
Hal itu menunjukkan peran strategis APBN sebagai instrumen vital penopang keuangan negara dan pengungkit pertumbuhan ekonomi.
Peningkatan itu diungkapkan langsung oleh Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam Konferensi Pers APBN KiTa Juni 2026 pada Jumat (5/6).
Dia mengatakan kinerja tersebut didorong oleh berbagai sumber penerimaan negara, termasuk dari sektor kepabeanan dan cukai.
Realisasi penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai hingga akhir Mei 2026 mencapai 36,8 persen dari total APBN atau tumbuh sebesar 0,7 persen dengan total penerimaan sebesar Rp 123,8 triliun.
Penerimaan dari sektor cukai mencapai Rp90,4 triliun atau tumbuh 0,2 persen (yoy) yang dipengaruhi oleh peningkatan produksi hasil tembakau pada Triwulan I.
Sementara dari sektor bea masuk mencapai Rp21,5 triliun atau tumbuh 9,7 persen (yoy) yang didorong peningkatan bea masuk dari impor bahan baku dan bahan penolong, sedangkan bea keluar mengalami kontraksi sebesar 8,9 persen (yoy) atau sebesar Rp11,9 triliun.






































