jpnn.com - ISTANBUL - Pakistan menyerukan Amerika Serikat dan Iran kembali melanjutkan perundingan dan mengakhiri permusuhan. Pakistan mendesak AS dan Iran kembali ke meja perundingan berdasarkan kesepakatan yang dimediasi Islamabad, meskipun masih terdapat ketidakpercayaan yang bertahan di kedua pihak yang menghambat implementasi konsensus tersebut.
Duta Besar Pakistan untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Asim Iftikhar Ahmad menyampaikan pernyataan itu dalam wawancara yang diterbitkan pada Kamis oleh The National, surat kabar berbahasa Inggris, yang berbasis di Abu Dhabi.
Adapun Memorandum Islamabad yang ditandatangani pada Juni setelah mediasi Pakistan dan Qatar menyerukan penghentian permusuhan, periode 60 hari untuk merundingkan penghentian konflik secara permanen, serta pengaturan untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran komersial.
Iran menuduh Amerika Serikat gagal menerapkan sejumlah ketentuan penting, termasuk yang berkaitan dengan sanksi dan blokade angkatan laut AS. Sementara itu, AS dan negara-negara Teluk menyerukan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Ahmad mengatakan terdapat sedikit keengganan untuk menerapkan memorandum tersebut, tetapi Pakistan terus berupaya mendorong implementasinya. “Kami memiliki jalur komunikasi yang terbuka dengan kedua pihak, baik Iran maupun AS, dan komunikasi tersebut berlangsung di tingkat tinggi,” katanya.
Menurut dia, Pakistan meyakini bahwa cara terbaik menyelesaikan situasi dan mencapai kesepakatan yang komprehensif serta final adalah kembali ke meja perundingan.
“Untuk itu, kami memiliki kerangka dalam Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad. Semuanya sudah ada. Mereka perlu kembali (berunding) … dan saya berharap mereka segera menyadari hal itu,” ucapnya.
Ketika ditanya pihak mana yang enggan melanjutkan perundingan, Ahmad pun memberikan jawaban.

















































