jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah Indonesia terus memperkuat pengembangan Waste-to-Energy (WtE) sebagai bagian dari strategi nasional dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus memperkuat bauran energi.
Dengan timbunan sampah nasional yang kini melampaui 189.000 ton per hari, proyek WtE diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mendorong ekonomi sirkular serta ketahanan energi.
Sejalan dengan arah tersebut, sejumlah proyek WtE dan RDF (Refuse-Derived Fuel) mulai dikembangkan di berbagai daerah.
Namun, keberhasilan proyek Waste-to-Energy tidak hanya bergantung pada teknologi pembangkit atau tungku pembakaran, melainkan juga pada sistem penanganan dan pergerakan limbah yang menjadi fondasi operasional fasilitas tersebut.
Tanpa sistem alat berat yang tepat, proyek WtE disebut berisiko mengalami feeding yang tidak stabil, downtime tinggi, serta lonjakan biaya operasional yang berdampak langsung pada kelayakan ekonomi proyek.
Sebagai perusahaan alat berat yang berpengalaman di sektor industri dan material handling, PT Multicrane Perkasa (MCP) memposisikan diri sebagai Integrated Waste Movement Partner untuk proyek Waste-to-Energy di Indonesia.
MCP mendukung seluruh rantai penanganan limbah, mulai dari pre-processing, transfer, feeding, hingga keberlanjutan operasional fasilitas WtE melalui pendekatan sistem yang terintegrasi.
“Salah satu pengembangan yang saat ini berjalan adalah proyek WtE di Sukabumi bersama Cahaya Yasa Cipta, serta inisiatif RDF yang sudah berjalan sejak Juli 2025,” ucap Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa Adrianus Hadiwinata, Rabu (4/2).













































