jpnn.com, FILIPINA - Pertemuan ke-27 ASEAN Economic Community Council (AECC) atau Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang digelar di Dusit Thai, Cebu, Filipina pada Kamis (7/5), menyoroti dampak konflik dan perang di Selat Hormuz ke negara-negara ASEAN.
Pimpinan Rapat AECC, Menteri Perdagangan dan Industri Filipina, Maria Cristina Aldeguer-Roque meminta pandangan para Menteri Ekonomi ASEAN untuk mengatasi dampak perang yang menyebabkan hambatan ketersediaan energi dan produk berbahan dasar minyak mentah di kawasan ASEAN.
ERIA, salah satu lembaga riset Jepang memaparkan usulan penguatan ketahanan ekonomi regional melalui kebijakan koordinasi industri.
Kepala Ekonomi AMRO, Dong He juga memaparkan risiko kebijakan domestik AS yang menyebabkan disrupsi suplai energi dan pestisida ke kawasan, yang menyebabkan kenaikan harga energi dan transportasi, serta depresiasi nilai tukar.
Kenaikan itu memicu lonjakan inflasi di kawasan ASEAN hingga level tertinggi sejak pandemi.
AMRO mengindikasikan ASEAN menghadapi tekanan stagflationary atau pertumbuhan ekonomi yang stagnan terkuat sejak 2011.
"Kami menyarankan kebijakan mengatasi gejolak dalam jangka pendek dan membangun ketahanan dalam jangka panjang secara pragmatis dan dapat diadaptasi," kata Dong he.
Sementara itu, ADB yang hadir di pertemuan itu mengusulkan kebijakan stabilitas untuk mengatasi lonjakan dampak perang yang dapat mengganggu kinerja ekonomi ASEAN.











































