jpnn.com, JAKARTA - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai kasus campak dan difteri lebih darurat untuk ditangani oleh pemerintah dibanding hantavirus.
"Kasus-kasus infeksi di Indonesia ini begitu banyaknya dan tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengatasinya,” kata Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat (8/5).
Dominicus menyoroti penyakit-penyakit itu belum ditangani secara optimal dan bahkan merebak di wilayah-wilayah tertentu dalam beberapa waktu belakangan ini.
"Sudah sekian belas tahun difteri di Indonesia. Campak ini mulai 2-3 tahun yang lalu sampai hari ini belum tuntas juga," katanya.
Walau tidak menyebutkan data, dia menilai kasus penyakit seperti campak, difteri, tetanus, pertusis jauh lebih tinggi dibanding hantavirus yang telah ditemukan atau pernah tercatat di Indonesia.
“Maksud saya, pencegahan tetap lebih penting karena kita lebih banyak kasusnya. Dan fakta menunjukkan orang-orang Indonesia banyak yang belum terlindungi dengan memadai,” ucap Dominicus.
Meski demikian, Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga itu setuju apabila penularan hantavirus tetap harus diwaspadai.
Caranya lewat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang mudah dilakukan masyarakat secara lebih efisien dan tidak memerlukan biaya yang mahal.










































