jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) merumuskan strategi baru dalam memetakan dan menangani konflik berkepanjangan antara manusia dengan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), tim bernama PKM-RSH Macaca UGM ini mengolaborasikan kajian bioekologi satwa dengan norma hukum yang hidup di tengah masyarakat (living law).
Penelitian yang berlangsung di Kapanewon Paliyan, Saptosari, dan Tepus ini digawangi oleh lima mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, yaitu Azmi Hanief Zeinadin (Filsafat), Naura Fenadine (Biologi), Okta Amaliya Fitriana (Hukum), Ashma’ Nabila Rayyan (Biologi), dan Ghalbin Charis Al Amien (Manajemen dan Kebijakan Publik), di bawah pendampingan dosen Abdul Rokhmat Sairah Z.
Konflik satwa liar dan warga di Gunungkidul tak sekadar memicu kerugian ekonomi akibat kerusakan lahan pertanian, tetapi juga merefleksikan dinamika hubungan manusia, lingkungan, dan ruang hidup satwa.
Selama ini, warga setempat telah menerapkan beragam mitigasi mandiri, mulai dari pemasangan jaring, pemanfaatan bunyi-bunyian, pembuatan orang-orangan sawah, hingga perondaan lahan secara berkala.
Okta Amaliya Fitriana mengatakan pola respons warga tersebut lahir dari akumulasi pengalaman dan nilai-nilai lokal.
"Mitigasi yang dilakukan masyarakat tidak muncul begitu saja. Ada pengalaman, kebiasaan, nilai, dan pengetahuan lokal yang membentuk cara masyarakat merespons keberadaan monyet ini. Oleh karena itu, praktik tersebut perlu dipahami sebagai bagian penting dari living law," kata Okta.
Riset ini juga menggarisbawahi adanya dilema etik di lapangan. Meski tanaman pertanian rusak, sebagian besar warga enggan melukai atau membunuh satwa tersebut karena terikat nilai keagamaan dan kebiasaan menjaga keselarasan alam.














































