Langkah Pijar Foundation & Universitas Andalas Wujudkan Pendidikan Tinggi Inklusif di Indonesia

1 day ago 28

Langkah Pijar Foundation & Universitas Andalas Wujudkan Pendidikan Tinggi Inklusif di Indonesia

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Pijar Foundation bersama Universitas Andalas (UNAND) dengan dukungan The Nippon Foundation, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktosaintek) menyelenggarakan dialog “Inklusi Disabilitas dalam Pendidikan Tinggi: Dari Pengalaman Kampus ke Dialog Kebijakan” di Universitas Andalas, Padang. Foto dokumentasi Pijar Foundation - UNAND

jpnn.com, PADANG - Keberadaan Unit Layanan Disabilitas (ULD) dan fasilitas pendukung di perguruan tinggi Indonesia masih sangat terbatas, sehingga menciptakan kesenjangan akses nyata bagi mereka yang ingin berkembang.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Pijar Foundation bersama Universitas Andalas (UNAND) dengan dukungan The Nippon Foundation, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktosaintek) menyelenggarakan dialog “Inklusi Disabilitas dalam Pendidikan Tinggi: Dari Pengalaman Kampus ke Dialog Kebijakan” di Universitas Andalas, Padang. 

Rektor Universitas Andalas, Dr. Efa Yonnedi yang diwakili Sekretaris UNAND Aidinil Zetra menegaskan bahwa inklusi disabilitas merupakan bagian dari keadilan yang harus diwujudkan bersama. Inklusi bukan sekadar belas kasihan, tetapi keadilan Yang wajib diwujudkan. 

"Universitas Andalas, melalui Unit Layanan Disabilitas, siap mendukung seluruh warga kampus untuk menikmati pendidikan tinggi secara setara dan adil. Kami berterima kasih kepada Pijar Foundation dan mengajak seluruh pihak berkolaborasi membangun kampus yang lebih inklusif,” tutur Aidinil dalam keterangannya, Rabu (13/5).

Ahli Perencana dan Ketua Satuan Pengawasan Internal LLDIKTI Wilayah X, Albert Oktavian menyoroti tantangan inklusi disabilitas di pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan regulasi, tetapi juga kesiapan sistem layanan di tingkat perguruan tinggi. Mayoritas perguruan tinggi, khususnya di Wilayah X menyampaikan bahwa mereka tidak memiliki mahasiswa penyandang disabilitas.

Namun, kondisi ini kata Albert, justru perlu dibaca lebih kritis, karena bisa jadi menunjukkan sistem pendidikan tinggi kita belum sepenuhnya aksesibel. 

Di sisi lain, belum banyak perguruan tinggi yang memiliki Unit Layanan Disabilitas, fasilitas yang aksesibel masih terbatas, dan layanan pembelajaran adaptif belum tersedia secara optimal.

"Bahkan ketika ULD sudah ada, layanan tersebut belum selalu terbangun sebagai sistem yang utuh. Karena itu, kesenjangan utama yang kita hadapi hari ini bukan hanya pada kebijakan, tetapi pada implementasi," tegas Albert.

Langkah Pijar Foundation dan Universitas Andalas mewujudkan pendidikan tinggi inklusif di Indonesia

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |