jpnn.com, JAKARTA - Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) David Tobing, menyoroti masih maraknya peredaran galon guna ulang berusia tua atau “ganula” di masyarakat.
Menurut David, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko kesehatan akibat peluruhan zat kimia Bisphenol A (BPA) ke dalam air minum.
Dia menyebut sekitar 92 persen konsumen melaporkan masih menerima galon tua yang telah digunakan lebih dari satu tahun.
“Berdasarkan data BPS, ada 34 persen rumah tangga di Indonesia mengonsumsi air minum dari galon. Dari pengaduan tersebut, bisa diperkirakan 92 juta penduduk terancam kesehatannya oleh peluruhan BPA,” kata David dalam keterangannya, Kamis (30/4).
Temuan tersebut merupakan hasil pemantauan KKI selama tiga tahun terakhir melalui survei nasional, investigasi lapangan, serta kanal pengaduan konsumen.
Dari 250 pengaduan yang masuk dari tujuh kota besar sepanjang Maret hingga April 2026, mayoritas konsumen mengaku masih menggunakan galon berusia lebih dari satu tahun.
KKI juga menemukan galon produksi 2015, yang masih digunakan untuk air minum, sehingga usia pakainya telah mencapai 11 tahun.
Selain usia galon yang dinilai terlalu tua, konsumen juga melaporkan kondisi fisik galon yang memprihatinkan, mulai dari kusam, retak, hingga penyok.











































