bali.jpnn.com, JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi musim kemarau 2026 secara umum tidak akan sekering periode fenomena El Nino ekstrem pada 1997.
Meski demikian, masyarakat dan pemerintah diimbau meningkatkan kewaspadaan mengingat karakteristik El Nino 2026 saat ini telah masuk dalam kategori kuat.
Menurut Plh. Deputi Bidang Klimatologi sekaligus Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, berdasarkan analisis peluang hujan bulanan, kemarau tahun ini secara umum lebih mirip dengan pola El Nino 2023 lalu.
"Meskipun secara umum tidak lebih kering dari 1997, ada beberapa wilayah yang memiliki probabilitas lebih kering cukup tinggi pada periode September hingga November 2026.
Seperti di sebagian besar Kalimantan, Papua, serta Pulau Jawa," ujar Fachri Radjab dilansir dari Antara.
Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026, mencakup sekitar 54 persen wilayah Indonesia.
Wilayah terdampak utama terutama di selatan khatulistiwa, meliputi Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Jawa, Sumatera bagian selatan, dan Papua bagian selatan.
“Kalimantan dan Papua berpeluang mengalami kondisi lebih kering hingga 80–90 persen, disusul beberapa wilayah Jawa pada Oktober,” kata Fachri Radjab.






































