jpnn.com, JAKARTA - Saat ini banyak perusahaan di Indonesia belum mencapai kekuatan keamanan siber yang maksimal untuk menghadapi ancaman yang kian kompleks.
Sebab, di era digitalisasi saat ini ketahanan keamanan menjadi perhatian khusus. Hal itu agar data di perusahaan terhindar dari serangan siber.
Deputy Head of Master IT program, Swiss German University, Charles Lim mengatakan ancaman siber berkembang jauh lebih cepat dan semakin sulit dideteksi, terutama dengan munculnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan deepfake.
Dia melihat dalam membangun ketahanan siber saat ini para pemilik bisnis masih menggunakan pendekatan reaktif dan bukan proaktif.
Pendekatan reaktif artinya sistem keamanan siber baru dihadirkan saat bisnis sudah mengalami kerentanan siber dan kerugian.
Seharusnya untuk menciptakan ketahanan siber sistemnya sudah harus disiapkan sebelum bisnis mengalami serangan siber.
"Organisasi perlu beralih dari pendekatan yang reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” ungkap Charles di sela peluncuran whitepaper bertajuk “A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience” di Kantor Indosat, Jakarta Pusat, Senin (11/5).
Menurutnya, lanskap ancaman siber di Indonesia kini berkembang semakin kompleks seiring meningkatnya adopsi AI dan digitalisasi enterprise.











































