jatim.jpnn.com, SURABAYA - Bisnis affiliate marketing di Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk berkembang dalam lima hingga 10 tahun ke depan. Jumlah masyarakat yang terlibat sebagai affiliator dinilai masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah pengguna media sosial, khususnya TikTok.
CEO & Founder DIGIMARU Michael Sugiharto mengatakan perkembangan ekosistem affiliate di Indonesia masih berada pada tahap awal jika dibandingkan dengan China.
Menurutnya, pengalaman melihat perkembangan affiliate marketing di China menunjukkan bahwa bisnis tersebut ke depan tidak hanya dijalankan secara individu, tetapi juga mulai dibangun dalam bentuk perusahaan khusus.
“Kalau untuk lima sampai 10 tahun ke depan, menurut saya affiliate ini adalah opportunity yang bagus banget,” kata Michael dalam acara Superstar Affiliate Revolution di Surabaya, Minggu (6/9).
Dirinya bersama CEO Superstar Agency Andri Firmansyah sempat diundang TikTok ke China untuk melihat perkembangan ekosistem affiliate di negara tersebut.
“Di China itu bedanya dengan kita sekitar lima tahun ke depan. Di sana yang ikutan jadi affiliate itu sudah bukan orang masing-masing, tetapi company dibangun khusus bikin affiliate,” ujarnya.
Sejumlah perusahaan besar di China sudah memiliki akun affiliate sendiri. Salah satunya perusahaan di sektor penerbangan yang mendorong para pramugarinya ikut melakukan aktivitas penjualan melalui affiliate.
“Kalau kami lihat, kita baru merintis di Indonesia. Affiliate-nya mungkin kurang dari dua juta, sedangkan penduduk Indonesia 280 juta dan yang punya akun TikTok 194 juta. Jadi, masih sedikit sekali. Peluangnya masih gede, masih blue ocean banget,” jelasnya.














































