jatim.jpnn.com, SURABAYA - Pasar modal Indonesia kembali mengalami tekanan signifikan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 7 persen memicu kepanikan di kalangan investor ritel.
Namun, jauh sebelum kejatuhan ini terjadi, Founder & CEO Astronacci International Prof Dr Gema Goeyardi telah menyampaikan proyeksi koreksi IHSG yang kini dinilai terbukti akurat.
Sejak 31 Desember 2025, Prof Gema memproyeksikan IHSG berpotensi terkoreksi setelah menyentuh area 9.150, dengan target pelemahan hingga kisaran 8.200. Pada perdagangan hari ini, IHSG tercatat telah menyentuh level tersebut.
Defect System Picu Panic Selling
Menurut Prof Gema, tekanan besar terhadap IHSG kali ini dipicu oleh fenomena yang ia sebut sebagai Defect System, yakni kondisi pasar yang mendorong terjadinya panic selling secara masif, terutama pada saham-saham dengan valuasi tinggi.
Dia menilai situasi ini memiliki kemiripan dengan kondisi pasar saat pengumuman Tariff War pada 2025, di mana sentimen negatif menyebar luas tanpa diiringi pertimbangan fundamental yang memadai.
“Kondisi ini membuat pelaku pasar bereaksi berlebihan, sehingga tekanan jual menjadi tidak rasional,” ujar Prof Gema dalam keterangan tertulis, Kamis (29/1).
Siklus Astrologi Mars Conjunction Pluto
Prof Gema juga mengaitkan kejatuhan IHSG dengan siklus astrologi Mars Conjunction Pluto yang terjadi pada 28 Januari 2026. Siklus serupa pernah muncul pada 24 Maret 2020, yang menjadi titik balik market crash saat pandemi COVID-19.
“Mars Conjunction Pluto sering menjadi sinyal tekanan puncak pasar. Dalam banyak kasus, fase ini justru menandai proses bottoming atau akhir dari penurunan besar,” jelasnya.










































