jpnn.com - JAKARTA - Head of Marketing and Brand Management Nellava Bullion Niki R Hashbiah mengatakan bahwa tren kenaikan harga emas terus berlanjut dan kian agresif.
Menurut dia, kondisi itu mempertegas fakta bahwa menunda pembelian logam mulia saat ini berisiko membuat masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam di masa depan.
Dia menjelaskan bahwa ketidakpastian ekonomi global, tekanan inflasi, pelemahan mata uang, hingga tensi geopolitik yang memanas, membuat emas tetap menjadi primadona safe heaven bagi investor.
Niki menyebutkan setiap kenaikan harga emas secara langsung meningkatkan biaya masuk bagi investor baru. "Artinya, makin lama menunggu, makin kecil jumlah aset yang dapat diperoleh dengan nominal dana yang sama," kata Niki dalam keterangannya, Kamis (7/5).
Menurut Niki, saat ini terbentuk dua kelompok di pasar. Pertama, mereka yang masuk lebih awal dan menikmati kenaikan nilai aset. Kedua, mereka yang terus menunggu dan akhirnya terpaksa membeli di harga yang sudah tinggi.
Dia menilai masih banyak masyarakat yang beranggapan membeli emas harus menunggu harga turun atau koreksi. Padahal, lanjut dia, dalam tren bullish (penguatan) jangka panjang, pola pikir tersebut justru sering membuat investor kehilangan momentum.
"Dalam tren seperti sekarang, risiko terbesar bukan membeli hari ini, tetapi terlambat mengambil keputusan. Selisih waktu beberapa hari saja bisa berdampak besar terhadap nilai aset yang diperoleh," tuturnya.
Niki juga menyoroti masalah transparansi. Selama ini, sebagian masyarakat masih membeli emas berdasarkan harga internal penjual tanpa tahu relevansinya dengan pasar global.











































