David Herson: Dari Reformasi ke Serakahnomic, Siapa yang Diuntungkan?

12 hours ago 25

 Dari Reformasi ke Serakahnomic, Siapa yang Diuntungkan?

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Pengusaha dan Aktivis sekaligus Pegiat Kebangsaan David Herson. Foto: Source for JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Pengusaha dan Aktivis sekaligus Pegiat Kebangsaan David Herson mengingatkan bangsa Indonesia tidak boleh kehilangan ingatan sejarah.

Reformasi 1998 adalah salah satu titik balik terpenting dalam perjalanan bangsa, lahir dari penderitaan rakyat akibat krisis ekonomi, ketidakpastian politik, dan tuntutan besar akan perubahan.

"Reformasi seharusnya menjadi jalan menuju demokrasi yang lebih sehat, pemerintahan yang lebih akuntabel, serta kehidupan berbangsa yang lebih adil dan sejahtera," ujar David Herson dalam keterangan tertulis pada Selasa (23/6).

Namun, menurut David Herson, sejarah juga mengajarkan bahwa di setiap perubahan besar selalu ada kelompok-kelompok yang berusaha menunggangi gelombang ketidakpuasan demi kepentingannya sendiri.

Dia menyebut fenomena ini sebagai “serakahnomic”, yaitu perilaku segelintir pihak yang menjadikan kegaduhan politik, kemarahan publik, bahkan krisis nasional sebagai instrumen untuk memperoleh keuntungan ekonomi maupun kekuasaan.

Dalam pandangannya, gejala yang ia sebut sebagai “1998 Redux” bukanlah semangat reformasi yang murni, melainkan kecenderungan untuk memproduksi ulang suasana krisis dan polarisasi dengan narasi yang berbeda tetapi dengan tujuan yang sama: menciptakan ketidakstabilan yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.

Mereka berbicara atas nama rakyat, tetapi yang diperjuangkan belum tentu kepentingan rakyat. Mereka mengaku sebagai pejuang demokrasi, tetapi sering kali lebih tertarik pada perebutan pengaruh dan kekuasaan.

David Herson menilai bahwa sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa kekacauan selalu menjadi lahan subur bagi tumbuhnya oportunisme.

Pengusaha dan Aktivis sekaligus Pegiat Kebangsaan David Herson mengingatkan bangsa Indonesia tidak boleh kehilangan ingatan sejarah.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |