jpnn.com - Kisah keterlibatan Indonesia dengan kekuatan Barat tercermin dalam diplomasi, perdagangan, dan bantuan.
Namun, narasi yang lebih sunyi dan mendalam mengalir parallel-sebuah kronik tentang intelijen, pengawasan, dan pencarian abadi untuk kebebasan yang berdaulat.
Narasi ini, membentang dari kelahiran Indonesia hingga era digital, krusial untuk memahami kalkulus strategis Indonesia hari ini, terutama di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Untuk memahami masa kini, kita harus kembali ke fajar pascaperang kemerdekaan dan masa-masa awal pendekatan yang canggung dengan sebuah negara kecil di Pasifik: Selandia Baru.
Seperti diungkap dalam tesis master Andrew Lim, The Kiwi and the Garuda (2015), hubungan Selandia Baru dengan Indonesia di era Presiden Sukarno adalah contoh utama diplomasi subordinat.
Kebijakan Wellington, dari perjuangan revolusioner melawan Belanda hingga berakhirnya Konfrontasi, dikalibrasi dengan teliti untuk selaras dengan kepentingan Inggris, Australia, dan Amerika Serikat.
Suara diplomatik Selandia Baru sendiri sering kali hanya bisikan, terserap oleh imperatif strategis Anglosphere dan Perang Dingin.
Dinamika ini menetapkan kebenaran fondasional bagi Indonesia: kedaulatannya terus-menerus dipandang melalui lensa politik aliansi Barat, khususnya Anglo-Amerika.













































