jpnn.com, BUKITTINGGI - Pemandangan ruang-ruang kelas untuk belajar bahasa kini tampak berbeda seiring hadirnya platform kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) seperti ChatGPT dan Gemini maupun aplikasi lainnya. Salah satunya terkait penggunaan AI untuk menerjemahkan bahasa Indonesia – Inggris maupun bahasa lainnya.
Tugas untuk menulis esai berbahasa Inggris yang satu dekade lalu menuntut usaha keras dan jam kerja panjang menggunakan kamus serta berbagai buku tata bahasa, kini dikerjakan hanya paling lambat satu menit oleh AI. Tidak ada lagi daya dan upaya mahasiswa atau pelajar untuk mempelajari kosa kata baru dalam bahasa maupun mengasah literasi dalam berbahasa. Semua dikerjakan platform AI. Alih-alih berusaha, mahasiswa maupun pelajar mampu menyusun esai Bahasa Inggris dalam hitungan detik dengan diksi yang setara dengan penutur asli.
“Akan tetapi, tersimpan sebuah ironi besar di balik tek-teks bernilai sempurna tersebut. Hasil tes akademik Bahasa Inggris secara luring justru sering menunjukkan stagnasi, di mana mahasiswa tetap tidak bisa lancar saat berbicara dan masih kesulitan menyusun kalimat sederhana tanpa bantuan teknologi,” ujar Ledya Fitriyana seorang guru bahasa inggris yang juga mahasiswi. Magister Pendidikan Bahasa Inggris UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
Menurut Ledya, fenomena “kefasihan semu” ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan saat ini. Kemudahan teknlogi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kompetensi pelajar dan mahasiswa. Sebuah kekhawatiran besar kemudian muncul bahwa ketergantungan pada AI bisa melumpuhkan otot kognitif manusia secara perlahan.
Hal ini juga berpotensi mengganggu mental yang sangat krusial bagi orang yang ingin belajar menguasai bahasa baru, khususnya Bahasa Inggris.
“Kita perlu mempertanyakan kembali kehadiran AI saat ini. Apakah AI benar-benar membantu kita menjadi masyarakat global yang komunikatif, atau justru sedang merampas kemampuan alami kita dalam mempelajari bahasa kedua?,” tambah Ledya.
Melompati Proses “Interlanguage”
Dalam ilmu Second Laguage Acquisition (SLA), terdapat sebuah konsep dengan istilah Interlanguage (bahasa antara) yang dicetuskan oleh Larry Selinker. Selinker menjelaskan bahwa setiap pembelajar bahasa tidak akan langsung mahir secara instan, melainkan belajar dari kesalahan-kesalahan untuk terus berevolusi membangun sistem bahasa yang unik di dalam otaknya.











































