jatim.jpnn.com, SURABAYA - Isu mengenai kaitan penyakit asam lambung atau GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dengan serangan jantung belakangan ramai diperbincangkan di masyarakat.
Menanggapi hal itu, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya) dr Jordan Bakhriansyah, Sp.JP. menjelaskan GERD tidak menyebabkan serangan jantung secara instan.
“GERD secara langsung nyaris bukan merupakan pemicu serangan jantung. Namun, GERD bisa meningkatkan risiko munculnya gejala yang menyerupai serangan jantung. Ini dua organ yang berbeda, tetapi tetap saling berkaitan karena berada dalam satu sistem tubuh,” kata dr. Jordan, Rabu (28/1).
Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia itu mengatakan GERD dapat memengaruhi kondisi jantung apabila disertai faktor risiko tertentu dan berlangsung dalam jangka waktu panjang.
Menurutnya, GERD yang memicu inflamasi pada lambung bisa meningkatkan aktivitas saraf simpatik sehingga tekanan darah naik dan detak jantung menjadi lebih cepat. Apabila terjadi terus-menerus, kondisi tersebut berpotensi membebani kerja jantung.
“Apabila berlangsung lama dan didukung faktor risiko, jantung bisa mengalami pembesaran dan pada akhirnya memicu gagal jantung. Namun prosesnya panjang dan tidak terjadi secara mendadak,” tutur dr Jordan.
Dia menekankan tidak ada kasus GERD akut yang langsung menyebabkan gagal jantung dalam waktu singkat tanpa melalui proses medis yang kompleks.
Karena itu, dr Jordan menolak praktik diagnosis mandiri yang kerap mengaitkan nyeri dada akibat GERD dengan serangan jantung tanpa pemeriksaan medis yang jelas.










































