jateng.jpnn.com, SEMARANG - Aroma kambing menyeruak sejak pagi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sentono, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (21/1).
Hari itu, ratusan warga tampak berkumpul untuk mengikuti tradisi Nyadran, sebuah ritual turun-temurun yang digelar menjelang bulan suci Ramadan.
Tradisi nyadran bulan Syakban kali ini sekaligus menjadi peringatan haul Kyai Asy’ari, tokoh penyiar agama yang dihormati warga setempat.
Sejak pukul 06.00 WIB, warga mulai menyembelih 48 ekor kambing hasil sedekah masyarakat, baik dari warga Ngijo maupun dari luar daerah.
Puluhan kambing tersebut berasal dari berbagai niat, mulai dari nazar, sedekah pribadi, hingga satu ekor kambing akikah. Setelah disembelih, daging kambing dipotong kecil-kecil untuk kemudian dimasak menjadi gulai.
Uniknya, seluruh proses memasak dilakukan oleh kaum laki-laki. Para bapak-bapak itu tampak cekatan menyiapkan tungku kayu bakar, mengaduk daging dalam wajan besar, serta meracik bumbu yang kaya rempah. Seusai matang, daging ditiriskan dan dikemas dalam plastik.
Sementara itu, para ibu mengemasi aneka jajan dan nasi berkat yang dibawa warga. Nasi berkat berisi daging gulai kambing tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat yang mengikuti nyadran setelah rangkaian doa dan mauizah hasanah.
Ritual doa dilakukan dengan duduk bersila di atas terpal yang digelar di area makam. Warga bersama-sama membaca tahlil, selawat, serta ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai bentuk kirim doa untuk para leluhur.








































