jpnn.com, JAKARTA - Pengamat hukum dan politik Dr. Pieter C Zulkifli, SH, MH mengatakan Pidato Presiden tidak hanya menyampaikan kebijakan, tetapi juga membentuk persepsi tentang watak kekuasaan.
Dalam situasi sosial-ekonomi yang menuntut stabilitas dan ketenangan, menurut Pieter Zulkifli, gaya tutur pemimpin menjadi bagian dari pesan itu sendiri.
Demikian catatan analisis Pieter C Zulkifli menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada saat Rakornas 2026.
Menurut Pieter Zulkidli, Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rakornas tersebut sejatinya memuat banyak agenda substantive, yaitu hilirisasi, swasembada pangan dan energi, pemberantasan korupsi, hingga perbaikan lingkungan.
"Namun, di tengah paparan panjang itu, satu kalimat justru menyedot perhatian publik secara tidak proporsional: 'Lu jangan nantang gue'. Sebuah pernyataan yang terlepas dari konteksnya meninggalkan kesan emosional, defensif, dan cenderung mencari validasi," kata Pieter Zulkifli dalam keterangannya, Jakarta, Kamis, 6 Februari 2026.
Menurut Pieter Zulkifli, pernyataan bukan semata soal komitmen programatik, melainkan soal cara kekuasaan menampilkan dirinya di ruang publik.
Dia mengajak pembaca menimbang kembali relasi antara ketegasan, wibawa negara, dan kebutuhan akan legitimasi dalam praktik kepemimpinan demokratis.
Lebih lanjut, Pieter Zulkifli menyampaikan dalam negara hukum, otoritas tidak ditegakkan dengan nada menantang, melainkan dengan konsistensi kebijakan dan kepatuhan pada etika kekuasaan.











































